Kamis, 04 November 2010

Klien_1

Beberapa hari ini keadaan sdang kalut.
Dan kesibukan di S2-pun udah mulai meningkat, udah mulai kuis mendadak, tugas" laporan yang harus dikumpulin, dan juga sebentar lagi bakal disambut sama UTS.


Diantara itu, ada beberapa klien dan juga masalahnya.
berhubng saya tipe orang yang suka mendengar dari pada berbicara, jadi banyak hal-hal diluar sana yang warna-warni dalam menghadapi masalah.
Sebagai contoh :


Klien_1 :
A punya masalah keluarga, sejak kecil dia didik dengan kurang demokratis, menurutnya keluarganya cukup asik dan santai karna tidak terlalu mengikat dalam aturan, namun A dituntut untuk dapat memilih mana yang baik dan mana yang tidak.
Ketika bersekolah tingkat SMP, A merasa dikeluarganya baik-baik saja, hingga pada suatu ketika, A mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan, A ditampar oleh Ayahnya. Kebencian terhadap Ayahnya-pun timbul setelah kejadian itu. Sang Ibu tidak bisa berbuat apa-apa, hanya dikamar saja dan menangis.
A berkata, menurutnya dia tidak bandel" bgd, dan tidak melakukan kesalahan yang melanggar hukum, lalu A merasa kenapa harus sampai ditampar?!
Sejak kejadian itu, komunikasi antar mereka-pun tak layak!
Sampai pada tingkat SMA, A menemukan keanehan pada sang Ayah, sang Ayah berselingkuh.
Pernah suatu saat, A sudah tidak kuat dengan ulah sang ayah yang terjadi dibelakang keluarganya, akhirnya A memberanikan diri untuk bilang kepada sang Ibu dan pergi dari rumah dengan keadaan terpukul.
Hubungan antar mereka (keluarga)-pun sangat merenggang. tidak ada keharmonisan dan keterbukaan satu sama lain.
sampai 6 tahun berlalu, Sang Ayah pun tidak pernah menjelaskan akar permasalahan terhadap A.
Kebencian A terhadap Sang Ayahpun sampai saat ini sulit untuk dihilangkan meskipun tetap tinggal serumah.




Dari cerita diatas, menurut saya, bisa dikatakan kesalahan sistem dalam keluarga.
Yang sepatutnya, keluarga adalah tempat kita berpijak dan belajar tentang semuanya sebelum keluar dari rumah dan belajar dari luar.
Keluarga adalah seperti sebuah perusahaan yang harus dikelola dengan baik jika dia tidak mau menjadi bangkrut.
Mungkin, Sang Ayah dan Ibu sibuk, jadi kurang waktu antara A dengan orang tua.
Salah satu solusi yang bisa digunakan adalah dengan berkata jujur satu sama lain.
Keluarga yang paling baik adalah keluarga yang demokratis.
Hukuman perlu, tapi perlu difikirkan kembali melakukan hukuman fisik, karena bisa sangat berdampak buruk pada anak.


Nah ini nih, yang terkadang membuat saya marah. Hati seorang anak itu sangat tersentuh, apalagi jika lawan bicaranya adalah orang tua.
Sebagaimanapun keadaan orang tua dan anak. Mereka adalah tetap keluarga. DARAH DAGINGNYA.
Untuk para orang tua, tolong deh jangan pake kekerasan fisik dalam menghadapi anak, sebagaimanapun anak itu.
Permintaan ini seperti, permintaan: tolong deh buat seorang anak, jangan melawan orang tua (terutama ibu).
Sekarang banyak juga kan tuh orang tua yang nangis" karena kelakuan anaknya yang gag manusiawi, dikarenakan sang anak adl pencari nafkah satu-satunya.


Jadi, masukkan buat A, coba tuk dibicarakan semuanya, meskipun itu sulit.
*i know you are sad, friend, keep fighting*



Tidak ada komentar:

Posting Komentar